Jakarta, CNN Indonesia —
Kenya kembali geger ketika kepolisian menemukan 90 jasad korban yang diduga mati kelaparan akibat mengikuti ajaran sekte sesat pimpinan seorang pastor bernama Paul Mackenzie Nthenge.
Para pengikut itu diduga mati kelaparan karena berpuasa agar dapat “bertemu dengan Yesus.” Nthenge memang mendoktrin para pengikutnya bahwa kelaparan merupakan satu-satunya jalan menuju Tuhan.
Ajaran-ajaran seperti ini ternyata bak “lagu lama” bagi masyarakat Kenya. Negara di Afrika Timur itu memang sudah beberapa kali digemparkan kehadiran sekte sesat yang kian menjamur belakangan ini.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Berdasarkan data pemerintah, lebih dari 4.000 gereja berdiri di Kenya dengan jemaat sekitar 50 juta jiwa. Dari ribuan gereja itu, beberapa di antaranya dianggap sesat.
Layaknya gereja sesat di sejumlah negara lainnya, beberapa aliran di Kenya juga memeras para jemaatnya untuk berdonasi dengan jumlah selangit.
Sebagian lainnya memang tak menguras kantong para pengikut, tapi membawa dampak lebih mematikan, seperti gereja yang dipimpin Nthenge, Good News International Church.
Melalui YouTube, Nthenge terus mendoktrin para pengikutnya. Dari kejauhan, publik lainnya terus mengamati gerak-gerik pemimpin-pemimpin sekte sesat seperti Nthenge.
“Kebanyakan pastor-pastor seperti itu sebenarnya tak pernah menginjakkan kaki di akademi teologi,” ujar profesor agama di Universitas Nairobi, Stephen Akaranga, kepada AFP.
Meski demikian, fakta tersebut ternyata tak menghentikan perluasan pengaruh sekte-sekte sesat di Kenya.
Mengapa sekte sesat menjamur di Kenya?
Merujuk pada pengamatan Akaranga, kebanyakan sekte itu tumbuh subur di daerah pinggiran, “di mana orang hanya punya informasi sedikit mengenai sekolah.”
Selain itu, Kenya menjadi ladang subur sekte sesat karena berbagai masalah bercampur menjadi satu di tengah masyarakat.
Masalah-masalah itu di antaranya kemiskinan, edukasi yang kurang, dan kemudahan mengakses khotbah-khotbah menghibur melalui jagat maya.
Aparat Kenya sebenarnya tahu betul bahaya sekte-sekte sesat ini. Namun, mereka tak bisa berbuat banyak karena gereja-gereja itu acap kali dapat memanfaatkan celah dalam sistem hukum di Kenya, yaitu kebebasan beragama.
Nthenge sendiri sudah beberapa kali nyaris dibawa ke meja hijau. Pada 2017 lalu, misalnya, ia sempat ditahan karena mendesak anak-anak agar tak sekolah.
Ia bersitegas bahwa Alkitab tak mengakui edukasi. Pada akhirnya, Nthenge bebas dari dakwaan.
Beberapa tahun berselang, Nthenge kembali ditahan bulan lalu, setelah dua anak mati kelaparan di bawah pengawasan orang tuanya.
Nthenge kembali membantah tuduhan yang diarahkan padanya, kemudian bebas dengan jaminan.
Bagaimana tanggapan pemerintah? Baca di halaman berikutnya >>>